<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219</id><updated>2011-04-21T18:06:56.827-07:00</updated><category term='gembel - gila - ngajogjakarta hadiningrat'/><title type='text'>helai hidup si gembel</title><subtitle type='html'>karena perubahan adalah bagian dari kehidupan, karena hidup itu sendiri adalah perubahan. untuk itulah kita harus berubah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-201307399712631004</id><published>2009-02-20T05:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T05:08:34.009-08:00</updated><title type='text'>Mencumbu Badai Merbabu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;aku sadari suatu saat nanti aku tidak akan seberuntung kisah-kisahku yang lalu..”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Merbabu adalah destinasi perjalanan kami ini. Dimulai dari stasiun Manggarai, dengan menumpang kereta Bengawan jurusan Solo Jebres yang dijadwal tertulis akan berangkat pukul 19.45. Awal perjalanan kami sudah melakukan “kenakalan”, kami menumpang kereta dengan tidak membeli tiket terlebih dahulu. Mendekati delapan malam kereta datang, dengan kondisi tidak begitu penuh dan masih banyak tempat duduk yang tersisa. Kami mengambil posisi masing-masing dengan menaruh carrier-carrier diatas rak. Namun kenyamanan itu harus berakhir ketika kereta memasuki stasiun Bekasi, para penumpang yang memiliki tiket resmi satu persatu mulai menggusur ke tempat kami duduk. Selepas stasiun Bekasi, kondektur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyisir tiket penumpang, ”karcisnya mas?”.”Solo, empat pak” jawab kami sambil menggulungkan uang 30.000 rupiah untuk empat orang. Dan selama beberapa menit kemudian merupakan pembicaraan yang alot antara kami dengan kondektur tentang uang yang harus kami bayarkan kepada dia. Namun setelah tampang “kere” kami berhasil meluluhkan hati sang kondektur, bapak setengah baya itupun pergi meninggalkan kami. Kereta api Bengawan adalah kereta api ekonomi dengan tujuan Tanah Abang - Solo Jebres. Tujuan kami adalah stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Dalam kondisi normal, seorang penumpang harus membayar satu tiket dengan harga 38.000 rupiah. Selama ini kami selalu mengandalkan kebaikan hati kondektur untuk memberikan “potongan harga” karcis kepada kami. Jadi memutuskan untuk membayar karcis diatas kereta api dengan memberikan uang langsung kepada kondektur atau nego terlebih dulu ke gerbong makan. Bisa dibilang, inilah angkutan antar kota termurah di Indonesia. Kami sampai stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 7 pagi dan disambut titik gerimis dari langit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada kesempatan pendakian yang dilakukan medio 12-16 februari kemarin, tim kami yang berjumlah 4 orang mahasiswa Bakrie School of Management memilih untuk memulai pendakian dari jalur utama Tekelan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konon, nama Tekelan berasal dari nama seorang kakek, Mbah Tekel yang merupakan sesepuh di desa tersebut. Temperatur udara di desa Tekelan sekitar 19 derajat celcius. Penduduk desa umumnya bermata pencaharian sebagai petani bawang, tomat, cabai, wortel, dan juga tembakau. Untuk mencapai desa tekelan, dari Stasiun Lempuyangan Jogja kami menumpang bis yang menuju terminal Giwangan, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Magelang. Setelah mewati perjalanan selama 2 jam, dilanjutkan dengan menumpang bis menuju kopeng. Dari kopeng untuk mencapai desa Tekelan dengan berjalan kaki kita akan melewati hutan wisata Umbul Songo dengan jarak 1,8km yang dapat ditempuh selama 45 menit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setibanya di basecamp pendakian, kami diberitahu bahwa Gunung Merbabu DITUTUP ! Kontan semua anggota tim kecewa, setelah melewati perjalanan panjang dari Jakarta, sungguh sia-sia rasanya jika pendakian batal dilakukan. Namun, karena cuaca hujan dan juga sudah mulai petang, malam itu kami memutuskan untuk menginap dulu di pos pendakian tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Malam harinya, kami ditemani oleh seorang Ranger (penjaga pos pendakian). Dalam obrolannya dia mengatakan bahwa penutupan telah dilakukan semenjak 1 Februari lalu oleh pihak Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) mengingat cuaca yang tidak bersahabat pada bulan basah seperti sekarang ini. Kami menanyakan apakah masih ada kemungkinan bagi kami untuk muncak keesokan harinya, dan dia mengizinkan dengan satu persyaratan segala resiko dan kecelakaan harus ditanggung sendiri. Karena tekad kami sudah bulat untuk menggapai puncak Merbabu, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan pendakian keesokan paginya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ada sebuah jiwa yang didapat dari perjalanan ini, yang timbul dari hubungan yang mesra antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama serta manusia dengan semesta alam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Gunung Merbabu yang berketinggian 3142 mdpl termasuk gunung dengan jumlah jalur pendakian terbanyak di Indonesia. Secara administratif, pegunungan Merbabu terletak antara tiga kabupaten, yaitu Boyollali, Salatiga, dan Magelang. Posisi gunung yang tergolong kedalam jenis &lt;i style=""&gt;stratovolcano&lt;/i&gt; ini sangatlah unik karena merupakan deretan pegunungan yang mengarah ke Utara, bersama Gn.Merapi, Gn.Telomoyo, Gn.Gajahmungkur, Gn.Andong, dan Gn.Ungaran. Nama Merbabu berasal dari kata meru yang berarti gunung dan babu yang berarti wanita. Gunung Merbabu berpasangan dengan Gunung Merapi. Gunung ini termasuk dalam kategori &lt;i style=""&gt;sleeping mountain&lt;/i&gt; atau gunung yang sudah tidak aktif lagi meskipun mempunyai lima kawah, yaitu Candradimuka, Kumbang, Kendang, Rebab, dan Sambernyawa. Jalur yang biasa dipakai para pendaki untuk mengggapai puncak Merbabu hanya beberapa, seperti Tekelan, jalur Dakan, dan jalur selo (jalur selatan), lainnya merupakan jalur penduduk untuk mencari kayu atau menangkap burung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sabtu pagi setelah sarapan dan &lt;i style=""&gt;repacking&lt;/i&gt;, cuaca cukup cerah mengawali pendakian. Pos pertama yang akan kami jumpai ialah pos Pending dengan melewati perkebunan penduduk dengan medan yang cukup menanjak. Kami merasa sangat diuntungkan dengan cuaca cerah ini, karena menurut penuturan penduduk bahwa disana selama beberapa minggu belakangan selalu diguyur hujan dan sesekali angin kencang. Dari Tekelan menuju pos pending berjarak sekitar 1200m yang dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan. Di pos Pending (1800 mdpl) terdapat persimpangan antara jalur utama (ke kiri) dan jalur alternative (ke kanan). Dari pos ini mulailah kita akan memasuki hutan, jalurnya terus menanjak mirip perpaduan antara Salak, Cikuray, dan Putri (TNGP). Menuju Pos 1 (Gumuk) dengan ketinggian 2260 mdpl selama 1,5 jam melewati Sungai Kaliwoso dan Pereng Putih di sisi kanan jalan. Karena banyaknya cabang jalur sebelum memasuki pereng putih, tim kami sempat disorientasi arah dan akhirnya tersesat selama lebih kurang tiga jam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kami menyadari bahwa kami berada bukan pada trek seharusnya setelah semakin lama jalan yang kami tempuh semakin terjal dengan semak berduri yang sangat lebat. Logikanya, tidak mungkin gunung yang cukup sering disambangi para pendaki ini mempunyai trek yang masih tertutup ranting dan semak sebanyak itu. Kami terus berusaha untuk kembali menemukan jalur pendakian normal, untungnya setelah menyebar tim kami menemukan kembali jalur tersebut, walau butuh waktu lebih kurang tiga jam, waktu yang lumayan lama untuk membuat adrenalin semakin terpacu. Beberapa saat setelah kembali ke jalur normal kami baru menjumpai Pereng Putih. Pereng Putih atau tebing putih yang merupakan sebuah tebing yang menjulang tinggi, terbentuk akibat adanya aktivitas gunung berapi. Pereng ini akan memantulkan suara bila kita berteriak dari punggungan sebelah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Naik sedikit dari tebing ini, kami melewati Sungai Kethekan yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk mencukupi persediaan air karena semakin keatas akan semakin sulit untuk menemukan sumber air. Dari sungai ini menuju pos 1 menghabiskan waktu 20 menit. Setelah istirahat sejenak kami langsung melanjutkan pendakian menuju pos 2 Lempong Sampan yang berjarak 785m dengan waktu tempuh 1 jam. Di pos inilah kami mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Setelah cukup kenyang dan memulihkan tenaga, tim kembali bergerak menuju Pos 3 Watu Gubug (2610 mdpl) yang ditempuh selama 1 jam. Pos ini ditandai dengan adanya rangka-rangka besi sisa bangunan. Didekatnya terdapat batu besar berceruk yang dapat dipakai sebagai shelter, cukup untuk berlindung empat orang. Itulah sebabnya tempat ini dikenal dengan watu Gubug dan merupakan tempat yang disakralkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah minum beberapa tegukan, perjalan berlanjut menuju Pos 4 Gunung Watu Tulis selama 1 jam. Kami tiba di pos ini pukul tiga sore. Di pos ini terdapat menara relay milik TNI AD dan sebuah bangunan yang entah digunakan untuk apa dan dipagari kawat berduri disekelilignya. Ditempat inilah kami memutuskan untuk mendirikan camp. Benar saja, 5 menit berselang setelah tenda didirikan kabut tebal dan angin ribut menerpa. Cuaca disini memang dapat berubah seketika, sehingga kewaspadaan harus tetap dijaga. Menjelang tengah malam, kami memasak nasi dengan lauk sosis dan dibumbui dari bumbu mie instan,ditemani secangkir cappuccino hangat, bayangkan sendiri bagaimana “lezat”nya. Setelah melumat habis menu malam itu, satu persatu dari kami mulai masuk kedalam kantung tidur masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ada sedikit “godaan” dari empunya tanah tempat kami mendirikan camp, ditengah ributnya angin yang menerjang diluar tenda, kami mendengar seperti ada yang mengacak-acak isi carrier kami, padahal pada saat itu yang melakukan pendakian hanya tim kami saja karena Merbabu memang sedang ditutup. Ketakutan dan emosi mulai susah untuk dikendalikan, untung kegaduhan itu tidak begitu lama. Sejam berselang, seisi tenda baru tertidur. Keesokan shubuhnya kabut tebal masih menggantung, sehingga sedikit menyulitkan untuk mengamati keindahan terbitnya matahari pagi. Target kami hari ini adalah Puncak Syarif. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="SV"&gt;Pagi datang tanpa suara, yang ada putih dan putih. Angin, kabut dan titik-titik air tak juga henti. Rasa khawatir kadang mampir kadang pergi. Mungkinkah kami melalui Jembatan Setan dalam cuaca angin kencang, kabut pekat dan hujan menderu berikut bawaan kami yang cukup berat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah sarapan roti keju dan bubur instan, pendakian dilanjutkan. Kami berjalan pelan karena jalan yang diselimuti kabut tebal sehingga jarak pandang tidak lebih dari 2 meter. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Lagi-lagi jalur tak ada yang datar, malah semakin terjal dengan tanah lempung bercampur batuan kapur. Kabut semakin menebal meski hujan datang dan pergi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebelum mencapai pos 5 kami melewati helipad, sebuah tempat datar disebelah kawah Candradimuka. Disekitar kawah ini kami melewati jembatan setan, dimana disisi kiri kanan jalan terdapat kawah Lanang dan Kawah Wadon. Dengan melalui jembatan setan dan mendaki tanjakan terjal, tim kembali menemui tempat datar yang lebih dikenal dengan Geger Sapi. Medan berikutnya ialah punggungan bukit dan terdapat beberapa jalan yang akan menuju Puncak Syarif, Puncak Pasar Dieng, dan Puncak Kenteng Songo (puncak tertinggi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perjalanan dari Simpang menuju Puncak Syarif ditempuh selama 10 menit dengan jarak 130m. Mencapai puncak syarif spontan seluruh tim melakukan sujud syukur, air mata tak sengaja memayungi pelupuk. Dengan memakai slayer Bakrie School of Management kebanggaan kami melakukan do’a bersama di puncak ini, berterima kasih kepada sang alam merbabu karena telah diberi restu untuk menapaki puncaknya. Kami tidak mau mengambil resiko untuk melanjutkan pendakian menuju Kenteng Songo, selain jalur yang tidak begitu jelas dan tidak kami kenal, kabut juga mulai tidak bersahabat. Dan rencana untuk turun melalui jalur selo otomatis gagal, dan memilih cara aman untuk kembali turun melewati jalur tekelan. Kami menyadari sepenuhnya kegiatan alam bebas sangat bergantung dari kondisi alam yang serba tak pasti, mungkin saja ada beberapa hal yang berubah dari rencana awal. Tim kami sangat menghindari pengambilan tindakan dimana nafsu telah mengalahkan akal sehat, keselamatan tetap menjadi faktor utama. Alam tidak bisa dilawan, hanya bisa dikenal, disayang, dan disiasati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="FI"&gt;asih ada sisa hutang buat Merbabu untuk kami datang lagi dikala rindu gunung datang menggaruk-garuk hati. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Perjalanan turun tidak seberat mendaki, meskipun kaki harus menahan beban dipunggung yang masih cukup berat. Kami turun selama 4 jam, setelah melapor di pos pendakian kami langsung lanjut menuju Kopeng karena takut ketinggalan Bis yang hanya beroperasi hingga pukul lima sore.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sore itu, setelah makan sepuasnya di sebuah restoran padang, tim kembali menuju Magelang, untuk melanjutkan lagi naik bis ke Klaten, rumah 2 anggota tim. Kami sampai di Klaten pukul 10 malam dan aku menginap di rumah Toyib. Sempat dihidangkan segelas jahe hangat dan roti, dan tidur untuk mengistirahatkan nyeri yang melanda seluruh badan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Senin pagi, Sugeng datang mengantarkan motor yang akan aku kendarai menuju Jakarta. Setelah motor diservis, tepat jam 11 siang perjalanan Klaten-Jakarta dimulai. Aku ditemani Amran di bangku belakang yang masih setia dengan bawaaan carriernya menyusuri jalanan Jawa tengah dari Boyolali, Kendal, Semarang, Pekalongan, Tegal, Indramayu, Cirebon, Cikarang dan kembali di Jakarta. Total perjalanan adalah 13 jam dengan trek yang cukup datar, beberapa daerah dengan jalanan berlobang dan bergelombang licin. Memasuki daerah Pantura, motor kami harus bersaing dengan truk gandeng dan petikemas yang mendominasi jalanan. Sepanjang perjalanan dijumpai banyak lobang yang menganga ditengah jalan, jadi kami harus ekstra hati-hati kalau tidak mau motor dan tubuh ringkih digilas besarnya ban truk yang banyak melintas. Walau kantuk dan capek begitu kuat menyerang, namun kami tetap harus sampai di Jakarta malam itu juga, karena keesokan harinya harus masuk kuliah lagi. Akhirnya motor Supra 2003 yang aku kendarai tersebut sampai di Jakarta pukul 3 pagi. Sesampai dikontrakan, aku langsung merebahkan diri dan tertidur pulas untuk mengumpulkan stamina memulai perkuliahan esok hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bila akhirnya semak belukar menutup jalan setapak dan menghentikan jalan kita untuk kembali pulang, Dan bila akhirnya nafas kita berhenti juga disini terkubur bersama ranting dan daun kering yang dingin, apakah itu semua akan tinggal kenangan sia-sia?&lt;br /&gt;Semoga saja tidak ! Tidak bila mayat-mayat kita kelak mampu menitip pesan bahwa gunung bukanlah tempat bermain-main yang didaki tidak dengan persiapan, yang didaki hanya dengan modal semangat, hendak menaklukkan alam...(Milis Pendaki)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;*&lt;i style=""&gt;terimakasih kepada sang pemilik alam yang telah mengizinkan kami menggapai Puncak syarif Merbabu dan selamat hingga kembali ke Jakarta, kepada orang tua yang berlapang dada melihat kelakuan masa muda kami (buat Ibu, yakinlah ini bukan suatu kesia-siaan Ibuku sayang), bapak Budi Setyawan dan Prabowo yang setia membimbing dan memantau perjalanan kami, orangtua Toyib atas tumpangan dan makan malam serta sarapannya,dan terhadap semua pihak yang rela merepotkan diri demi kelanjutan perjalanan ini.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-201307399712631004?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/201307399712631004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=201307399712631004&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/201307399712631004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/201307399712631004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2009/02/mencumbu-badai-merbabu.html' title='Mencumbu Badai Merbabu'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-2325604811182770305</id><published>2009-02-20T05:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T05:06:30.274-08:00</updated><title type='text'>Pendakian dan Kekuataan Empati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mendaki gunung ialah suatu kegiatan favorit yang aku lakukan untuk sejenak melepas kepenatan pikiran dan kehidupan yang berjalan serba konstan. Seorang bijak pernah berujar, “ banyak-banyaklah berjalan, niscaya engkau akan lebih bijak dalam berpikir dan bertindak”. Dengan kata lain , makin sering seseorang melakukan perjalanan maka makin banyak pengetahuan hidup yang ia dapat. Makin banyak yang ia tahu, makin banyak pulalah nilai-nilai kehidupan yang ia serap. Hingga hasil akhirnya menuju titik bijak seorang manusia. Setiap informasi yang ia miliki, pengetahuan-pengetahuan yang ia dapati dan nilai-nilai yang ia yakini, semua tertampung dalam sanubari, untuk selanjutnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menjadi penuntun setiap langkahnya dalam menelusuri perjalanan-perjalanan yang lain. Tak hanya di gunung, tak hanya di gua-gua, tak hanya di tebing atau sungai, tapi di samudera kehidupan. Dalam kehidupannya sebagai makhluk social. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Banyak yang hingga detik ini masih mempertanyakan motivasiku dalam melakukan kegiatan ini. Sebenarnya pertanyaan seperti ini cukup klise untuk diajukan kepada seorang yang sedang mencoba mengabdikan dirinya untuk bersahabat dengan sang alam, seperti apa sedang kualami ini. Soe Hok Gie dalam sebuah catatannya pernah menuliskan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;kami adalah manusia yang tidak percaya pada slogan dan hipokrisi. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari slogan dan hipokrisi. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai Tanah Air dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. &lt;b style=""&gt;Karena itulah kami naik gunung&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Setiap kali hendak berkegiatan dialam, jiwaku sering merasa tertantang, aku akan melakukan kegiatan yang suatu ketika yang tak terduga dapat mengantarkan pada sang ajal , aku akan pergi jauh meninggalkan rumah, hendak meninggalkan zona kenyamanan yang telah menjadi keseharian selama menjalani kehidupan perkotaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jika mau sedikit menyimak lebih dalam sebenarnya banyak hal yang dapat dijadikan sebuah pelajaran. Naik kereta kelas ekonomi berdesak-desakan, tidak jarang harus berdiri bahkan tidur dilantai yang terdapat berbagai kotoran, lalu pindah dari satu bus ke bus yang lain, serta duduk bersama diatas pick-up bersama ibu-ibu yang kembali dari berbelanja sayuran di pasar tradisional. Sesampai di desa, aku berjumpa dengan masyarakatnya yang begitu ramah menyambut, para petani, pengangkut kayu, atau para penambang yang selalu memberikan senyum polos yang ikhlasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ingin kutekankan bahwa ada hal yang mungkin lebih berharga daripada pendakian itu sendiri. Ini tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat yang kerap dijumpai didesa pada saat melakukan pendakian, yang mungkin sangat menarik untuk dipelajari masyarakat di perkotaan. Sebuah pola hidup penuh kesederhanaan yang memang kini hanya melayang menghampiri awan di atas gedung-gedung tinggi yang menusuk langit.Dari pengalaman seperti inilah refleksi mengenai keberpihakan kepada mereka yang termarjinalkan akan kuawali. Mereka yang digolongkan kedalam kelompok ini ialah mereka yang selama ini tidak pernah terjamah dan diperhatikan, menjadi minoritas atau menjadi korban dari penindasan suatu sistem, yang bahkan harus mati-matian berjuang untuk mendapat butir demi butiran nasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Semangat keberpihakan dan solidaritas ini dibentuk melalui persentuhan dengan mereka yang “sakit”. Perjumpaan dengan mereka yang ditindas, interaksi dengan mereka yang tidak bersuara (voice of voiceless), interaksi yang kerap kualami ketika pergi meninggalkan tempat tinggal untuk berjumpa dengan gunung, sungai, bukit, hutan, dan desa-desa. Perjumpaan dengan mereka memungkinkan diri ini untuk berempati, merasakan apa yang mereka rasakan, sehingga dengan demikian akan tergugah untuk bertindak. Mencoba membangun &lt;i style=""&gt;prefential for the poor&lt;/i&gt; berarti pula membangun semangat “mencemplungkan” diri kedalam dunia. Turun dari dunia kita dan mulai masuk kedalam dunia mereka. Merendahkan diri agar bisa berjumpa dengan mereka dan lalu mengangkat mereka agar setara dengan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku begitu bersyukur ketika dalam waktu dekat ini organisasi yang aku banggakan dikampusku menggagas sebuah kegiatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aksi social dalam memperingati HUT Bakrie, dimana institusi kami bernaung. Sahabatku Alfian bahkan dengan sengaja membekali logisticnya dengan beberapa bungkus kretek 76 dalam pendakian Merbabu belum lama ini, demi memperingati dan mengungkapkan kebanggannya atas HUT yang sekarang telah memasuki usia 67 ini. Aku terkesima melihat semangat rekan-rekan yang bertugas mengkoordinir semua rangkaian acara yang berpusat dikampus BSM. Sudah lama memang aku merindukan dan mengimpikan suatu aksi nyata dalam lingkup pengabdian diri kedalam masyarakat seperti ini. Dalam kediamanku, aku hanya mampu berharap dan mendoakan semoga semua ini tidak hanya sebuah rangkaian seremonial belaka, yang dilakukan hanya sebagai suatu tuntutan tetapi lebih kepada tanggung jawab sebagai mahasiswa dan manusia secara keseluruhan sebagai makluk social. Disini aku tidak akan menggurui siapapun, karena terkadang diri inipun masih begitu arogan untuk sekedar memberikan recehan pada seorang anak kecil yang kurus dan kumuh yang kerap dijumpai di perempatan. Kapasitasku hanyalah sebatas mengajak, bahwa diluar sana masih berserakan saudara-saudara kita yang hanya makan nasi aking sekali dalam sehari, yang tidur kedinginan berdinding kardus bekas dan beratapkan langit, yang berjuang dengan airmata dan darah demi melawan kusta yang sudah menahun hinggap dan tidak sanggup diobati karena tidak mempunyai biaya untuk itu. Sesekali mari kita merenung dan melakukan aksi nyata bagi mereka, meninggalkan kehidupan apatis dan individualis yang begitu ganas menyerang untuk sejenak berempati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-2325604811182770305?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/2325604811182770305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=2325604811182770305&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/2325604811182770305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/2325604811182770305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2009/02/pendakian-dan-kekuataan-empati.html' title='Pendakian dan Kekuataan Empati'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-777650186615506541</id><published>2009-01-23T07:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T07:08:26.654-08:00</updated><title type='text'>Menyapa Kabut Lawu (sebuah catatan perjalanan)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                    Segala puji syukur bagi-mu Tuhanku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                Untuk saudaraku sang bayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;            Untuk udara yang berawan maupun jernih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;        Dan segala macam cuaca yang kau ciptakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Yang kau jadikan sarana menghidupi mahluk-mahlukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini merupakan sedikit dari cerita perjalanan selama 5 hari (7 – 12 Januari 2009) bersama teman-teman dari Bakrie School of Management (BSM) yang terdiri atas 5 orang tim , serta 1 orang dari President University (PU). Awalnya tim yang akan berangkat dari PU berjumlah 4 orang, namun karena satu dan lain hal 3 orang cewek pendakinya memutuskan untuk batal mengikuti pendakian kali ini. Dengan menaiki kereta bisnis Senja Utama dari Stasiun Senen pada pukul 20.20 WIB, kami menuju St. Balapan, Solo, Jawa Tengah. Dan tiba disana sekitar pukul 8 pagi, awal perjalanan yang cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Stasiun Balapan segala lelah dan lapar tertumpah disebuah warung makan. Kami makan di sebauh warung nasi liwet, yang konon merupakan makanan khas kota tersebut. Hal ini penting sekali mengingat perjalanan yang akan ditempuh masih cukup jauh. Selesai itu, rombongan yang berjumlah enam orang ini termasuk aku, Ridwan, Baginda, Fahri, Redha, dan Macin menumpang bis menuju Terminal Tawangmangu, Karang Anyar, untuk ganti kendaraan menuju Pos awal pendakian Cemoro Sewu. Perjalanan dari Solo ke Tawangmangu ditempuh selama lebih kurang dua jam. Udara perlahan-lahan dirasakan begitu segar dan sejuk seiring dengan perjalanan bis yang mendaki perbukitan. Dan tanpa disadari hal itu membuatku sempat terlelap separuh jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawangmangu adalah sebuah kota kecil dikaki Gunung Lawu. Banyak terdapat objek wisata didaerah ini seperti air terjun Grojogan Sewu, Telaga Sarangan dengan keindahan danaunya yang begitu memesona, Candi Ceto dan Candi Sukuh yang merupakan Candi warisan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit terakhir (15 M). Pasar Sayur Tawangmangu namanya, di tempat ini kami menyempatkan berbelanja logistik dan keperluan lain untuk pendakian. Harga barang barang yang dijual disinipun relative murah. Dari depan Pasar ini pula tersedia Colt jurusan Sarangan yang akan mengantar kita langsung menuju kawasan Taman Nasional Gunung Lawu (TNGL) dan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Lokasi pintu masuk TNGL terletak diketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut (m.dpl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wisatawan maupun pendaki yang akan mengunjungi Gunung Lawu wajib melapor ke kantor dinas PERHUTANI setempat. Memilih untuk mendapatkan jalur pendakian yang lebih cepat namun nge-track, berpanorama indah dan tertata rapih hingga ketinggain 2.100 m.dpl, kami putuskan untuk melewati pintu Cemoro Sewu. Gunung Lawu memiliki 3 puncak tinggi yaitu Hargo Dalem 3.148 m.dpl, Hargo Dumiling 3.180 m.dpl dan Hargo Dumilah. Yang terakhir tersebut tadi menjadi puncak tertinggi Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3.268 m.dpl. Ketiga tempat tersebut masing-masing memiliki catatan sejarah yang terkait dengan sisa-sisa kebesaran kerajaan Majapahit di nusantara. Jalur pendakian Cemoro Sewu menawarkan banyak panorama yang memukau pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaki akan disuguhkan ekosistem flora dan fauna yang beragam seperti ribuan jejeran pohon Pinus dan Cemara, Akasia, Angrek, Edelweiss, Cantigi, Rustania, Puspa, Beringin, beragam jenis burung seperti Burung Anis, Burung Perjak, Burung Kerak, Burung Elang dan suara-suara primata Owa Jawa dikejauhan. Kesemua kehidupan alam liar tersebut dapat dengan mudah kita temukan mulai dari jalur pendakian antara shelter 3 hingga puncak Hargo Dumilah. Untuk menjejak puncak Hargo Dumilah melalui jalur ini memakan waktu sekitar 7 jam pendakian. Para pendaki akan menjumpai 5 shelter peristirahatan yang masing-masing berada pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan 2.900 m dan shelter terakhir pada ketinggian 3.100 m.dpl. Hingga sekarang ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup di kawasan Gunung Lawu masih terjaga dengan baik karena masyarakat yang tinggal di kaki gunung merasa takut jika hutannya dirusak maka penguasa Lawu yang tak lain adalah Sang Prabu Majapahit Brawijaya V, akan murka. Di Gunung Lawu, terdapat 2 jalur yang cukup popular di kalangan para pendaki, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Perbedaannya yaitu di Cemoro Sewu treknya lebih jelas, lebih pendek, dan lebih aman, walaupun sedikit terjal dengan tebing bebatuan di sisi kanan-kirinya. Sedangkan jalur di Cemoro Kandang relatif lebih landai namun dengan jarak tempuh hampir dua kali lebih jauh dibanding melewati Cemoro Sewu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kedua pos ini hanya terpisah 500 meter satu sama lainnya, tetapi sebenarnya keduanya terletak di dua provinsi berbeda. Cemoro Kandang terletak di Kab.Karanganyar, Jawa Tengah sedangkan Cemoro Sewu termasuk dalam territorial Kab. Magetan, Jawa Timur. Gunung ini secara geografis terletak pada 7.625’ LS dan 111.192’ BT, serta termasuk dalam jenis stratovolcano yang telah lama tidak aktif dan terbentuk pada masa Holocene. Tidak tercatat adanya letusan vulkanik sejak Abad 19, namun pernah terjadi gempa di tahun 1978 dan 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak kawah kecil di Gunung ini, pada ketinggian 2500 mdpl, dan tersebar pada kedua jalur. Sebelum memulai pendakian, di pos Cemoro Sewu, kami memutuskan untuk beristirahat memulihkan tenaga yang cukup terkuras setelah perjalanan jauh dari Jakarta, dan akan memulai pendakian sekitar jam 8 malam. Hujan gerimis mewarnai awal pendakian dari Cemoro Sewu ini. Medannya relatif landai dengan melewati hutan pinus dan akasia, menjelang Pos I terdapat ladang penduduk. Sebelum Pos I kita akan melewati persimpangan, yang ke kanan menuju Sendang Panguripan, sementara yang lurus menuju Pos I. Di pos I ini terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan untuk melepas lelah sejenak bagi para pendaki. Perjalanan menuju pos II / Watu Gedek (2300 mdpl) kami tempuh selama 1 jam. Di pos II ini terdapat pondok yang dikelilingi tebing, kami sampai di pos ini pada pukul 11 malam, dengan kondisi cuaca yang berkabut dan gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi tim yang sudah mulai agak melemah dan dengan mempertimbangkan factor cuaca, kami memutuskan untuk nge-camp sementara di pos ini, dan akan melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Karena kondisi tenda yang hanya bisa menampung 4 orang, kami pun harus bergantian untuk tidur, sementara 2 orang lainnya bertugas menjaga tenda diluar. Esok paginya, setelah sarapan bubur instan dan kopi hangat kami melanjutkan perjalanan pada pukul 8 pagi menuju Pos III Watu Gede (2500 mdpl) yang ditempuh selama 1 jam 30 menit. Dari pos III ke Pos IV Watu Kapur (2800 mdpl) ditempuh selama 1 jam, dengan medan yang lumayan curam melalui kawah kecil yang menyemburkan bau belerang. Kawah tersebut diapit 2 bukit yang dasarnya labil sehingga tekanan dari bawah tanah (magma) dapat menembus keluar. Namun, karena terletak di jurang, kawah ini sulit dikunjungi. Dari Pos IV menuju Pos V (3000 mdpl) dapat ditempuh selama 30 menit. Pos V Jalatunda hanya tinggal rangka kayu seperti Pos IV. Kemudian dilanjutkan menuju Sendang Drajad selama 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur pendakian yang landai hingga sejauh lebih kurang 500 m terlihat dengan jelas membentuk sebuah garisan panjang yang melipiri tebing dengan jurang-jurang dikanannya. Dari ketinggian ini, kota-kota dibawah kaki Gunung Lawu terlihat semakin mempesona. Menjelang mata air Sendang Drajat, dikiri diluar jalur pendakian terdapat sebuah savana kecil yang ditumbuhi bunga-bunga Edelweiss dan tetumbuhan hutan lainnya. Ditengah-tengah savana ini terdapat sebuah batu besar dengan gambar telapak kaki manusia diatasnya. Konon pemilik telapak kaki ini adalah Maha Patih Majapahit Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah Palapanya untuk seantero nusantara. Dibebatuan tebing yang mengapit savana ini terdapat sebuah Goa yang disebut Sumur Jolotundo. Sumur ini gelap dan sangat curam, memiliki kedalaman lebih kurang 5 meter dengan lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. Konon sumur Jolotundho ini sering digunakan untuk bertapa dan guru-guru untuk memberi wejangan/ pelajaran kepada murid-muridnya. Sumur Jalatunda atau Gua Segolo-golo yang terdapat sebelum Pos V merupakan terowongan bawah tanah yang jika ditelusuri kedalamnya maka kita akan melihat air yang terus menerus menetes dari langit-langit gua. Air ini begitu jernih namun dingin sekali. Nama Segolo-golo berasal dari kata segolo yang berarti segalanya. Banyak orang yang mempercayai bahwa bila kuat bertapa di gua itu maka segala permintaannya akan dapat terpenuhi. Kami menginjakkan kaki di Sendang Drajad pada pukul 2 siang, agak terlambat dari yang direncanakan, disebabkan kondisi trek berbatu yang terjal dan bebatuan yang runcing-runcing yang sedikit menyulitkan pendakian dan harus ekstra hati-hati agar tidak terperosok ke jurang di sisi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendang Drajad merupakan mata air tertinggi disini, dan digunakan untuk memenuhi ketersediaan air baik pendaki maupun peziarah yang sering mengunjungi gunung ini. Air sumur ini tidak pernah habis atau mengering walaupun diambil terus menerus dimusim kemarau. Air Sendang Drajad ini dipercaya dapat memberikan mukjizat dan penyembuhan supranatural bagi orang-orang yang meminumnya. Nama Sendang Drajad berasal dari kata sendang yang berarti mata air dan kata drajad yang berarti pangkat. Jadi arti lengkapnya adalah mata air yang memberi berkat berupa kenaikan pangkat, oleh sebab itu air disini dipercaya sebagai air suci. Di Sendang Drajad ini kami tidak bisa melihat pemandagan apa-apa, karena kabut cukup tebal yang menghalangi pandangan pada waktu itu. Malam kedua kami memutuskan untuk menginap di warung yang ada disini. Keberadaan warung disini bisa dikatakan sebagai sebuah fenomena, karena berada pada ketinggian diatas 3000 mdpl, barangkali inilah warung tertinggi yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sendang drajad sendiri terdapat 2 warung, yang menyediakan makanan dan minuman hangat. Malam menjelang pagi udara dingin terasa sangat menusuk tulang, tak terbayangkan jika tak ada warung ini dan kami harus mendirikan tenda dengan konsekuensi harus jaga diluar tenda secara bergantian, betapa dinginnya. Pada malam ini kami bercerita banyak dengan penjaga warung, yang mengatakan bahwa ia telah berjualan disana selama puluhan tahun, dan harus berbelanja turun gunung untuk membeli kebutuhan warungnya satu kali dalam 2 minggu. Pada malam ini, juga ada rombongan Menteri dari Departemen Pertambangan Republik Indonesia yang datang kesini untuk melakukan ritual ziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita yang kami dapat, pada bulan Suro seperti ini memang terdapat banyak peziarah yang mengunjungi gunung ini, dengan berbagai tujuan. Bahkan seringpula diantara peziarah tersebut ialah para pemegang kekuasaan di Negara ini. Setelah beristirahat semalaman, keesokan shubuhnya kami meneruskan perjalanan menuju puncak dengan memakan waktu selama kurang dari setengah jam karena kami memotong jalan melalui punggungan bukit yang cukup curam. Hargo Dumilah adalah nama Puncak Lawu (3265 mdpl), tempat ini ditandai dengan adanya tugu setinggi 2 meter. Di dekat puncak terdapat pondok yang dibangun oleh para pertapa. Gunung Lawu yang dahulu bernama Wukir Mahendra dipercaya sebagai pusat kerajaan pertama di Pulau Jawa. Keraton Surakarta dan Yogyakarta sebagai penerus kerajaan Mataram mempunyai hubungan erat dengan gunung ini. OIeh karena itu mereka sering mengadakan upacara spiritual disini. Nama “Lawu” berasal dari nama Sunan Lawu, cucu Raja Brahwijaya V, raja majapahit terakhir yang melarikan diri bersama pasukannya dari serbuan Kerajaan Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hargo Dumilah, nama puncak Lawu diyakini sebagai tahta Raja Brahwijaya V. Disitulah rakyatnya bersujud menyembah raja mereka. Pemandangannya makin indah dengan gumpalan awan yang menghampar jauh dibawah jejakan kaki. Langitnya makin biru. Anginnya makin sejuk dan tetap kering. Mataharinya tetap terik namun hati semakin takjub mensyukuri diri dapat memandangi sekelumit karya dari Sang Pencipta alam semesta. Pemandangan dari Puncak Hargo Dumilah pada saat tertutup awan sangat indah. Jika melepaskan pandangan kearah timur maka kita dapat menyaksikan beberapa puncak gunung lainnya seperti pulau - pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, seperti yang digambarkan dalam kahyangan.Bila udara bersih tanpa awan kita dapat melihat pantulan matahari dideburan dan riak ombak Laut Pantai Selatan. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak juga waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan. Melepaskan pemandangan kearah barat, kita akan melihat pucuk puncak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandana Bakrie School of Management pun sukses untuk pertama kalinya kami kibarkan di puncak ini. Tidak ada kata lain selain rasa haru yang membuncah di dada, dengan semangat kebersamaan sang Lawu telah mengizinkan kami semua untuk mencumbu ujung dari ketinggiannya. Sujud syukur spontan kami lakukan atas kebahagiaan berhasilnya ekspedisi kali ini. Dengan saling berangkulan kami berfoto bersama di Hargo Dumilah ini sambil mengibarkan Bandana BSM yang kami bawa, dilanjutkan juga dengan pengibaran kedua bandana BSM-President University dengan berlatar tim yang berjumlah sebanyak enam orang. Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan ciptaanNya, kami kembali ke Sendang Drajad, untuk mengambil perlengkapan yang tadi ditinggal di warung dan kemudian langsung menyusur jalan turun ke Cemoro Sewu. Sebelumnya kami memberikan sisa logistik yang kami punya kepada penjaga warung sebagai bentuk ungkapan terima kasih, sekalian pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada perjalanan naik kami harus beberapa kali break untuk menormalkan pernafasan dan beradaptasi dengan semakin tipisnya udara pegunungan, pada jalan turun kami harus menahan beban agar tidak terperosok, tak ayal kaki kami harus jadi “korban”. Kami hanya butuh waktu setengah dari total waktu untuk naik pada saat turun ini. Walaupun selepas pos III kami harus tetap berjalan melawan derasnya hujan, semua tim akhirnya bisa selamat sampai di pos Cemoro Sewu. Sore itupun kami langsung menuju Tawangmangu, dan kemudian dengan menumpang Bis Langsung Jaya meneruskan perjalanan menuju Solo. Kereta Gaya Baru Malam yang sebenarnya berangkat dari Surabaya datang tepat pada waktu yang tertera di jadwal. Kondisi kereta sudah sangat dipenuhi penumpang, jadi kami tidak kebagian kursi. Kami sebenarnya baru membeli tiket di atas kereta, dengan tarif 100.000 untuk 6 orang. Sangat murah memang untuk ukuran perjalanan Solo-Jakarta. Perjalanan selama 12 jam, dan pada pukul 08.00 pada tanggal 12 Januari kami telah sampai kembali di Stasiun Pasar Senen, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran yang kami petik dari perjalanan selama 5 hari ini (7-12 Januari 2009), dari pelajaran mengenai menghargai alam, melihat lebih dekat keindahan dan keagungan ciptaanNya, hingga arti dari sebuah persahabatan dan kerjasama suatu kelompok. Prinsip yang kami pegang ialah bahwa tidak selamanya belajar harus di ruangan kelas, karena alam juga menawarkan khazanah ilmu yang tak terbatas bagi kita yang mau mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada alasan untuk tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Kami nampaklah begitu alit dibandingkan kosmos yang diciptakan Tuhan. Benar, hanya pikiran, daya dan upaya yang bisa mengantarkan kita untuk mencapai pengertian kesemestaan. Tentunya, kami bahagia ketika jiwa ini terasa dekat dengan Sang Pencipta. Sebuah harapan dari kami adalah semoga pada pendakian selanjutnya bisa melibatkan kalangan lebih luas dalam lingkup kampus BSM, baik yang berasal dari mahasiswa sendiri ataupun dari dosen atau para staff. Kita semua menyepakati bahwa sebuah perjalanan atau berkegiatan di alam terbuka mempunyai faktor resiko tersendiri. Dimana faktor resiko tersebut dapat ditimbulkan dari diri kita sendiri/ perilaku dan dari luar diri kita, seperti kondisi lingkungan. Faktor faktor resiko tersebut dapat diminimalisir atau dikurangi salah satunya dengan menerapkan prinsip prinsip manajemen perjalanan. Manajemen perjalanan mutlak diperlukan apalagi jika perjalanannya atau kegiatannya mempunyai media kegiatan di alam terbuka,.dengan melakukan manajemen perjalanan maka kita dapat merencanakan kegiatan kita dengan terperinci dan terorganisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga tak kalah pentingnya dan bisa dikatakan mutlak diperlukan dalan suatu perjalanan adalah kepemimpinan.Dalam setiap kegiatan dibutuhkan seseorang yang tanggung jawabnya adalah untuk memimpin kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Kepemimpinan adalah cara seseorang mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama mencapai satu tujuan tertentu. Pengalaman dialam terbuka menuntut tiga aspek dasar manusia : fisik, mental dan emosi. Keseimbangan dimiliki dalam bentuk: pikiran yang mengontrol ketegangan emosi dan gerak tubuh, saat berhasil mengatasi tantangan pada saat bersamaan muncul kepuasan emosi dan kegembiraan. Kegiatan petualangan dengan media alam sebagai tantangan menuntut kemampuan memahami potensi bahaya dialam dan keharusan menghormati potensi itu, ini merupakan titik awal yang mudah dirangsang untuk memiliki rasa hormat terhadap potensi keseluruhan alam. Dalam situasi petualangan, khususnya bila penampilan diri atau rasa percaya diri dituntut oleh situasi tersebut, maka beberapa sifat dan kualitas diri harus dipenuhi, seperti :disiplin diri, percaya diri dan kehormatan diri, determinasi atau kebutuhan bekerja sangat keras dalam menyelesaikan suatu permasalahan, vitalitas atau pendekatan yang sangat positif yang diperlukan secara esensial untuk mencapai sukses dari sebuah target, konsentrasi, dan pengambilan keputusan yang tepat dan cepat dalam situasi terburuk sekalipun. Kegiatan petualangan dengan memakai media alam sebagai tantangan yang juga dapat dirancang untuk dilakukan berkelompok, akan dapat merangsang beberapa potensi sifat atau kemampuan tertentu. Beberapa tantangan yang dihadapi secara teknis benar-benar menuntut untuk dihadapi bersama, sehingga akan menimbulkan rasa hormat kepada orang lain. Tuntutan kemampuan lain dalam kegiatan dialam terbuka adalah pandangan kedepan, inisiatif dan akal sehat, tidak egois, kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini dapatlah kita lihat secara nyata bahwa ilmu yang kita peroleh di bangku perkuliahan sebenarnya dapat kita praktekkan langsung dengan melakukan kegiatan di alam terbuka (outdoor activities).Kedepannya semoga lebih banyak lagi masyarakat kampus yang mau terlibat langsung dengan kegiatan yang banyak memberikan efek positif ini, dengan hasil akhir yang diharapkan agar dapat lebih menghargai alam seisinya dan berujung pada suatu sikap tunduk, syukur dan penghambaan kepada sang maha pencipta, bahwa kita hanyalah setitik noktah dari segala ciptaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                                            Bila aku tidak mencoba sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                       Aku tidak akan pernah mendapatkan pelajaran dari sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                               Dan inilah petualangan, penuh ketidakpastian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                            Aku melangkah kedalam ruang ketidaktahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                    Kusadari sepenuhnya adanya bahaya di sekitarku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                        Kuakui lebih merupakan bayangan daripada kenyataan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;     Dan sebuah kecintaan atas kelenggangan liar dari bukit-bukit di sekitarku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; *Tulisan ini aku dedikasikan kepadaTuhan Yang Maha Esa atasTuhan Yang Maha Esa atasberkat, kasih, dan bimbinganNya. Ibundaku tercinta (my biggest LOVE) yang begitu luar biasa mendidikku dan memberiku begitu banyak banyak inspirasi kehidupan, Ayahku yang mengajarkan tentang kesederhanaan dan keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan.Terima kasih secara khusus kepada teman seperjalananku yang memberiku pencerahan tentang arti sebuah persahabatan dan kebersamaan, Laura Yulia Rahmah bunga hidupku, Bp.Budi Susanto atas pinjaman alat dan informasinya, Bp.Prabowo atas segala bimbingannya, Kang Bayu Tresna (TRUENORTH Bandung), Mas Aji Rachmat (SIOUX Indonesia), Mas Djarody (MAPALA Satu Bumi UGM dengan kisah perjalanan inspiratifnya ke Gunung Raung via Glenmore), Mas Mohammad Anshori, dan semua rekan di Milist Jejak Petualang atas semua kisah inspiratifnya dalam suatu diskusi denganku,Bapak penjaga warung di Sendang Drajad atas tumpangan tidurnya, bapak sopir pickup yang memberikan tumpangan gratis bagi kami hingga stasiun Purwosari, semua keluarga besar BSM – PU atas segala dukungannya, dan terhadap semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak ikut membantu kelancaran pendakian kali ini.Mohon maaf apabila dalam tulisan ini masih terdapat banyak sekali kekurangan, maklum masih dalam tahap pembelajaran.Maju terus dunia petualangan Indonesia…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-777650186615506541?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/777650186615506541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=777650186615506541&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/777650186615506541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/777650186615506541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2009/01/segala-puji-syukur-bagi-mu-tuhanku.html' title='Menyapa Kabut Lawu (sebuah catatan perjalanan)'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-296207389785553417</id><published>2009-01-23T06:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T06:58:45.666-08:00</updated><title type='text'>Kampusku Idamanku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini dikemukakan dilatarbelakangi oleh semakin tidak sehatnya suasana kehidupan berkemahasiswaan yang ada dikampus, setidaknya itu yang saya pribadi rasakan, saya berharap pandangan yang akan disampaikan ini tidak sepenuhnya benar dan barangkali teman-teman bisa memberikan pembenaran dan koreksi untuk kemajuan kita bersama, mari berdiskusi dan berkontribusi untuk kampus tercinta…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB Demi&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Faktor Mahasiswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kampus Bakrie School of Management merupakan institusi pendidikan yang telah berdiri semenjak tiga tahun silam, dan saat ini memfokuskan pendidikannya pada bidang ekonomi dan bisnis. Kampus yang berdiri dibelakang nama besar BAKRIE ini memiliki motto untuk menyiapkan para lulusannya untuk dapat bersaing dan memenangkan kompetisi dalam kehidupan bisnis yang riil, setidaknya itulah cita-cita mulia yang yang diinginkan para pendirinya. Seiring dengan telah terdapatnya tiga angkatan yang menjalani perkuliahan dikampus ini, maka kita juga telah bisa melihat berbagai dinamika kehidupan mahasiswa didalamnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Secara garis besar, banyak orang yang mengartikan mahasiswa sebagai pelajar yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.Unsur diferensia dari definisi ini terletak pada jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Jikapun ada pembeda lainnya hanya terletak pada tugas-tugas yang memiliki porsi lebih banyak diabanding ketika di sekolah dasar atau menengah, dan jika boleh ditambahkan adalah makhluk intelektual yang notabene memiliki kebebasan. Namun kebebasan ini terkadang tak luput dari tindak pengsalahartian oleh banyak pelakunya, mungkin kita sendiri juga termasuk didalamnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Yang paling dominan terjadi ialah sikap &lt;i style=""&gt;fetisisme&lt;/i&gt; yang banyak menjangkit dikalangan mahasiswa. Fetisisme disini memiliki definisi berlomba-lomba mendapatkan nilai akademik bagus tanpa mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dan mengaplikasikan nilai yang diperoleh tersebut dalam lingkungan masayarakat. Sebagian mungkin akan mengemukakan alasan bahwa mereka melakukan itu karena tuntutan beasiswa yang mewajibkan setiap mahasiswa mencapai nilai tertentu, tapi yang ingin saya kemukakan adalah bukan berarti dengan tutuntutan itu kita menjadi sosok “egois” yang hanya berlomba untuk mendapatkan nilai tertinggi,dan mengenyampingkan isu-isu social yang terjadi yang pada hakekatnya membutuhkan pemikiran dan langkah konkrit dari kita para mahasiswa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lingkungan mahasiswa tidak ubahnya bagai sebuah tempat isolasi untuk mencari nilai, gelar dan kelulusan. Seminar-seminar yang diadakan di berbagai kampus ramai dikunjungi hanya untuk mendapatkan selembar sertifikat. Entah disadari atau tidak oleh pelakunya, di dalam mengonsumsi pengetahuan dan berbagai gaya hidup, ia menjadi mayoritas yang diam, yang hanya dapat menyerap segala sesuatu tanpa mampu menginternalisasikan dan memaknainya. Hal ini dapat dilihat langsung dari minimnya iklim berdiskusi khususnya dikalangan sesama mahasiswa menyangkut kasus social kemasyarakatan yang membutuhkan pemikiran cemerlang dari para kaum intelektual ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dilain sisi budaya di kampus pun juga menyentuh aspek &lt;i style=""&gt;banalitas&lt;/i&gt;. Ruang-ruang kampus tidak ubahnya seperti yang dikatakan oleh seorang pakar sebagai “&lt;i style=""&gt;shop display”&lt;/i&gt;. Mahasiswa didalamnya lebih senang menampilkan gaya bicara, gaya pakaian (tidak ubahnya dengan patung-patung di toko pakaian yang memamerkan model pakaian yang sedang popular), gonta-ganti gadget dengan tekhnologi paling terkini ketimbang mengejar pengetahuan dan mengaplikasikannya. Sebaliknya, di jalanan masih banyak terlihat kaum kurang beruntung yang demi mendapatkan sesuap nasi harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan jalanan, kriminalitas dan bahkan maut yang menghantui. Tidakkah kita miris menyaksikan dua hal bertolak belakang ini terjadi disekitar bahkan di kehidupan kita sendiri ? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB Demi&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Faktor Kampus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Suasana kurang kondusif tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswanya sendiri. Sebagian atau bahkan keseluruhan dari kita menyepakati bahwa kampus dalam fungsinya sebagai fasilitator memiliki peranan yang tak kalah penting. Sadar atau tidak, terdapat beberapa kejanggalan kebijakan yang menyangkut kepentingan kampus – mahasiswa. Yang paling terkini yang dapat kita rasakan bersama adalah pendirian koperasi di lingkungan kampus. Koperasi yang sepenuhnya didirikan oleh para staff ini menjadi suatu dilemma dimana disaat yang sama para mahasiswa yang tergabung dalam salah satu departemen terkait kewirausahaan di Badan Eksekutif Mahasiswa juga bermaksud sama untuk mengadakan koperasi yang melayani kebutuhan masyarakat kampus secara keseluruhan ini. Terkesan bahwa mahasiswa kalah &lt;i style=""&gt;start&lt;/i&gt; dengan para pendiri koperasi yang ada saat ini. Ironis, kampus yang katanya akan mendidik para peserta didiknya untuk menjadi entrepreneur muda ini terkesan tidak mau kalah dalam meraup keuntungan dengan mahasiswanya, disebabkan isu terakhir yang beredar bahkan menyatakan bahwa koperasi tersebut seisinya dipunyai dan dikelola sepenuhnya oleh para staff, tanpa bisa dicampurtangani oleh mahasiswa dalam hal pengadaan barang sekalipun. Hal ini jelas-jelas menutup kemungkinan bagi para mahasiswa untuk mengembangkan dan mempraktekkan langsung ilmu bisnis yang diperoleh di bangku perkuliahan, khususnya didalam area kampus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebelumnya juga hangat diperbincangkan mengenai pengadaan jas almamater. Sebagaimana kita ketahui, bahwa jas alamamater merupakan symbol dan kebanggaan dari mahasiswa dari suatu kampus untuk memakainya, baik pada acara internal yang diadakan dilingkungan kampus sendiri apalagi acara eksternal dimana terdapat berbagai mahasiswa yang mungkin tergabung dalam acara tersebut, dan disinilah mereka berkesempatan menunjukkan jati dirinya. Adalah suatu situasi yang miris dimana suatu kampus yang telah mempunyai sebanyak tiga angkatan mahasiswanya, sampai detik ini belum memiliki almamater kebanggan sebagai penunjuk jati diri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Hal lain yang menjadi sorotan ialah pencabutan beasiswa akademik bagi mahasiswa yang memiliki nilai “dibawah standar” yang ditetapkan. Pencabutan yang terjadi beberapa waktu lalu ini menjadi tidak rasional ketika sebagian dari mahasiswa yang tergolong dalam kelompok ini ada yang mendapatkan semacam “orang tua asuh” dalam membayar biaya perkuliahan. Sedangkan sebagian lainnya yang mengalami nasib kurang beruntung diharuskan untuk membayar penuh biaya perkuliahan. Tidak begitu jelas criteria apa yang digunakan para pengambil keputusan dalam penggolongan ini. Jika disebutkan kalau pembagian ini berdasar pada tingkat kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa, keputusan ini jelas cacat karena didalam mahasiswa yang masuk dalam daftar penerima bantuan program orang tua asuh ini terdapat individu yang secara financial bisa dikatakan berada pada golongan ekonomi menengah keatas, bahkan jauh diatas mahasiswa yang diwajibkan untuk membayar biaya perkuliahan secara “full”. Saya hanya menyayangkan mengapa hal ini bisa terjadi, dimana para pengambil keputusan strategis disini hendaknya melakukan pengamatan dan pendekatan secara intensif sebelum para mahasiswa ini dikelompokkan. Sebab menurut hemat saya bahwa keputusan ini tidak hanya menyangkut soal uang, tetapi juga bersinggungan dengan masalah moral para mahasiswa korban kebijakan ini. Tentu tidak satupun orang yang dapat menerima begitu saja kondisi dimana mereka yang memiliki situasi keuangan yang tidak begitu bagus harus rela menghadapi rekannya yang memiliki nilai dibawah yang mereka dapatkan dan dengan situasi ekonomi sama bahkan diatas mereka &lt;b style=""&gt;tidak &lt;/b&gt;dikenakan kewajiban untuk membayar biaya perkuliahan. Hal ini secara langsung ataupun tidak dapat menyuburkan tingkat kecemburuan social, yang berujung pada tidak kondusifnya suasana pergaulan dikalangan sesama mahasiswa sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Beberapa contoh situasi tersebut menunjukkan adanya upaya pembatasan-pembatasan yang dilakukan demi kepentingan pihak tertentu yang berselubung untuk menjalankan dan melancarkan misi tertentu. Dengan segala cara mahasiswa diberi ruang gerak terbatas dan secara tersirat adanya &lt;i style=""&gt;restriction&lt;/i&gt; tersendiri, mulai dari pihak birokrasi kampus hingga lebih jauh pada pihak-pihak nonkampus yang mencoba melebarkan sayapnya. Hal ini semakin memperjelas perampasan hak untuk berekpersi, berpendapat dan berorganisasi yang semuanya berpengaruh tidak saja dalam intra-kampus semata. Dan tentu saja semua tekanan ini menjadi tantangan tersendiri yang sangat sulit dihadapi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Berbagai aktifitas yang berlangsung mulai dari aktifitas social kemasyarakatan mahasiswa baik untuk memperjuangkan hak-haknya dikampus sampai di masayarakat nyata juga terkesan mengalami hambatan dari pihak kampus. Sebagai mahasiswa aktif tentunya kita dapat merasakan bersama. Dari semua tindakan birokrasi kampus tersebut memiliki kesamaan pola, yaitu dengan berbagai macam peraturannya (Surat Keputusan dan peraturan kampus), dan terkadang lebih parahnya lagi ada anggapan bahwa aktifitas mahasiswa untuk memperjuangakan hak-haknya, dan mengkritik kebijakan kampus adalah tindakan yang mencemarkan almamater, dan nama baik perguruan tinggi. Hal ini tentu saja amat sangat disayangkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sesungguhnya partisipasi aktif mahasiswa dalam kehidupan sosial politik bisa saja dilakukan asalkan pada konteks dan kedudukannya sebagai mahasiswa dimana setiap langkah gerakannya adalah dalam rangka memperjuangkan nilai-nilai moralitas bangsa dan negara, sebagai ”social control”. Jadi penulis beranggapan bahwa demonstrasi adalah salah satu dari cermin intelektualitas mahasiswa, jika demonstrasi itu berada pada posisi demi membela kepentingan bersama. Maka dari itu penulis tidak sepakat jika ada anggapan bahwa silahkan boleh bicara politik dari rel akademis bahkan secara ilmiah tetapi jangan sampai demo-demoan. Pendapat ini jelas merupakan kunci mati mahasiswa dalam berpartisifasi aktif dalam kehidupan sosial politik. Jika pendapat di atas menjadi sebuah legalitas dan berbentuk kebijakan-kebijakan, maka akan menciptakan kader-kader bangsa yang kurang antisipatif terhadap lingkungannya, kurang mempunyai kepedulian sosial dan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi bangsanya. Dalam ruang lingkup tertentu, memang sebagian mahasiswa Indonesia mulai menganggap demonstrasi ataupun penyaluran orasi sebagai sesuatu yang membosankan, membuang-buang waktu, dan tidak bermanfaat. Hal ini terlihat dari banyaknya opini negatif mahasiswa terhadap rekan-rekannya yang berdemonstrasi di luar kampus. Mereka berkecenderungan untuk berfikir bahwa belajar di kampus, mendapat indeks prestasi yang tinggi agar cepat lulus, sehingga dapat secepatnya merasakan dunia kerja, adalah sesuatu yang utama dan sangat dinanti-nantikan. Tapi ketika mereka memimpikan hal tersebut, mereka lupa bahwa idealisme dan daya kritis – hal yang sangat melekat dengan jiwa mahasiswa - menjadi terpendam atau boleh jadi hilang. Mahasiswa sering lupa bahwa ketika mereka lebih senang menikmati pesta, dan mereka sudah enggan untuk mendengarkan atau mungkin mengkritik setiap masalah di negerinya, mereka tidak sadar bahwa masa depan negaranya di tentukan oleh tangan-tangan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mahasiswa melalui perwakilannya yaitu Badan eksekutif Mahasiswa harus bersama-sama membangun dan mempresentasikan peran sosialnya atau yang kemudian dikenal dengan Student Governtment. Dengan konsep ini, kampus menemukan faktor dominannya untuk mensikapi berbagai dinamika yang terjadi menyangkut kepentingan mahasiswa itu sendiri bahkan untuk kepentingan masayarakat, bangsa dan negara. Mahasiswa harus kembali menemukan jati dirinya, eksistensi mahasiswa harus diperjuangkan, karena mahasiswa adalah insan berkepribadian, yang selalu menjunjung tinggi sikap idealismenya. Penyadaran untuk kembali mengkondusifkan suasana berpikir kritis dan berani bertindak memang membutuhkan waktu tidak sebentar, namun usaha-usaha menghidupkan kembali melalui diskusi-diskusi kecil yang bisa menjadi bola salju yang besar harus terus digalakkan. Selain itu pola pikir yang tumbuh dalam jiwa muda yang progresif harus bisa menggugah sebagian mahasisiwa lainnya untuk bersama bergerak membangun bangsa dengan kemampuan berkarya masing – masing. Negara kita Indonesia mengharapkan datangnya generasi yang tidak hanya pandai dalam hal ilmu saja namun juga harus peka terhadap lingkungan dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemegang kebijakan . Hal itu akan berfungsi sebagai kontrol sosial untuk melindungi pihak-pihak yang lemah. Kebebasan berpendapat mahasiswa hendaknya tidak dipasung. Kepada para mahasiswa justru harus didukung untuk mengembangkan kebebasan berpendapat dan mengutarakan gagasan. Dengan cara ini, maka upaya peningkatan pemahaman nilai-nilai humanisme akan terpenuhi karena pada dasarnya mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan untuk kemajuan bangsa dan Negara. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;*&lt;i style=""&gt;tulisan ini hanya sebatas pengetahuan dan kapasitasku sebagai mahasiswa yang juga mengalami dinamika sebagaimana disebutkan diatas. Mohon maaf apabila terdapat pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisanku ini, aku hanya ingin menyampaikan secara jujur kenyataan yang terjadi untuk perubahan kearah yang jauh lebih baik bagi kita semua. Mari kita budayakan berpikir kritis dan lebih membuka diri terhadap persoalan social kemasyarakatan yang banyak terjadi diseliling kita. Teruslah berkarya. Salam….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-296207389785553417?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/296207389785553417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=296207389785553417&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/296207389785553417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/296207389785553417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2009/01/kampusku-idamanku.html' title='Kampusku Idamanku'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-6724087313980287489</id><published>2008-03-31T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T02:06:12.367-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gembel - gila - ngajogjakarta hadiningrat'/><title type='text'>penggembelan ke kota gudeg</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R_yG9HGjTjI/AAAAAAAAAD8/sRx449KA9TY/s1600-h/staiun.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187169255260638770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R_yG9HGjTjI/AAAAAAAAAD8/sRx449KA9TY/s320/staiun.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R_yGhHGjTiI/AAAAAAAAAD0/jGqk_kXetbY/s1600-h/staiun.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan atau lebih tepat disebut penggembelan ini berawal pas tanggalan merah 19-23 maret kemaren. Itu berarti (lagi-lagi) akan liburan panjang. Naluri menjelajah kembali menggelora. Rencana awal adalah melakukan pendakian Gn. Pangrango di kompleks TNGP, Cibodas, Jawa Barat. Senang rasanya akan melakukan pendakian pertama di pegunungan pulau jawa. Tapi apa daya, izin yang sudah dikantongi sebelumnya harus ditarik kembali oleh petugas posko jaga setempat disebabkan cuaca yang tidak bersahabat akhir2 ini plus hilangnya beberapa pendaki di gunung yang sama. Kecewa pastinya, tapi tidak ada celah untuk kata keputus-asaan. hahaaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jadilah kami berangkat dengan modal yang amat sangat pas - pasan ke kota &lt;em&gt;gudeg&lt;/em&gt; jogjakarta. Yummy, tak ada gunung, kraton pun jadi (ga nyambung ya?!). Dengan menumpangi kereta progo jurusan pasar senen-lempuyangan, kami berangkat jam9 malam meninggalkan stasiun pasar senen. Jam7 pagi kereta yang kami tumpangi telah sampai di tujuan terakhir, jogjakarta. Penggembalaan dimulai. Tekad awal kami adalah tidak akan menumpangi angkot atau kendaraan apapun selama masih berada di jogjakarta. Bukan lantaran pengen jadi backpackers sejati, namun lebih disebabkan oleh kondisi kantong yang teramat minim `__~.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menyusuri jalanan malioboro, berfoto ria hingga depan Bank Indonesia, terus berjalan melewati deretan counter souvenir dagadu, kraton, dan sampai di objek yang lumayan kesohor dikota ini, Tamansari. Pocket camera pun kembali beraksi disini. Walau badan masih berbau keringat setelah berdesakan di kereta dan berjalan kaki lumayan jauh, tapi kami bertiga bersikap seolah masa bodoh. Jarang2 kami menemui karakter bangunan yang unik seperti ini di jakarta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lebih kurang 1 jam disini, hunting view- view yang bakal dipamerin pada teman2 di jkt nantinya.&lt;span style="color:#000000;"&gt;hikzz&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berhubung hari jum'at, kami telah merencanakan untuk jum'atan di masjid agung yang lumayan terkenal itu. Aha, arsitektur bangunan ini masih ketara corak budaya jawanya. Habis jum'atan, melepas lelah dulu sambil menunggu waktu ashar. Selepas ashar, kakipun kembali diayunkan menyusuri jalanan yang sore itu diguyur hujan. Setengah jam berjalan, kami sampai di Museum Kereta Karaton. Memasuki kompek museum, aura mistis langsung kerasa. Maklum, katanya kereta2 yang dipajang disana rata-rata sudah berumur ratusan tahun, dari kereta permaisuri hingga kereta jenazah.iihhhh...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Malamnya kami kembali ke malioboro yang terkenal dengan jajanan malamnya itu, (jangan mikir macam2 bagi yg baca, jajanan disini maksudnya makanan &amp;amp; souvenir2 khas jogja). Memasuki pasar malam malioboro, hasrat untuk belanja sudah tak tertahankan lagi. Jadilah kami membeli dagadu plus beberapa pajangan yang dijual lumayan murah disini. Puas ? Sebenarnya sih blum, berhubung untuk mempertahankan kehidupan di negri orang gejolak untuk ngeborong pun harus dipendam. Maaf teman2, ga ada oleh2 untuk &lt;em&gt;trip &lt;/em&gt;kali ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengisi malam, kami cuma nongkrong2 di trotoar sambil &lt;em&gt;kopi darat&lt;/em&gt; bareng tukang becak yang beroperasi 24jam di sekitaran Tugu. Busyet, obrolannya seru &lt;em&gt;cuy&lt;/em&gt;, si bapak tukang becak nyeritain kehidupannya sampai jadi narik becak hingga nawarin &lt;em&gt;"ayam"&lt;/em&gt; kepada kami. Oalah tobat....tobat. Kami ga bawa duit banyak untuk bayar peuyem jogja pakkkk.. (selain gw juga ga mau, kan alim !!haa). Jam 2 pagi mata dan kaki yang daritadi terus bergerak minta diistirahatkan. Setelah bertanya-tanya dimana kami bisa nginap gratis, kami memutuskan untuk tidur di masjid agung kembali. Cuma tidur ampe jam setengah 5, muazin udah azan subuh. Selesai shalat plus sarapan gratisan dari pengurus masjid berupa goreng pisang ditemani teh manis, kami tanya2 untuk menuju Borobudur dengan rute terdekat and termurah tentunya. Menumpangi transjogja sampai stasiun jombor, trus nyambung bis ke borobudur. Butuh waktu 2jam untuk sampai di Borobudur dari pusat kota Jogja. Di Borobudur yang ternyata panas itu, aksi narsis2an kembali digelar. Terang aja, wong disini objeknya bagus pisan &lt;em&gt;euy&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seharian kami menghabiskan waktu disini. Malam harinya, recehan dikantong udah benar2 habis, cuma cukup untuk menebus tiket kereta untuk balik ke Jakarta. Kalau sudah menyangkut yang satu ini, kami pasrah. Kami langsung menuju lempuyangan untuk segera balik ke habitat masing2. Ough, perjalanan yang sangat singkat. Ingin rasanya untuk bisa lebih lama dikota ini. Tidaaakkkk....harus kembali lagi ke Jakarta yang sumpek dan kumuh !&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jogja , I'll be back again !! Wait Me !&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Note : "kami" dalam cerita diatas terdiri dari 3 makhluk liar kurang kerjaan yang ga punya duit banyak untuk berliburan tapi tak bisa membendung naluri menjelajah. 3 ekor makhluk itu yaitu gue, awi 'bebas', n dwi 'onta'. Thanx bro untuk kegilaanya. Keep Rollin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-6724087313980287489?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/6724087313980287489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=6724087313980287489&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/6724087313980287489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/6724087313980287489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/03/blog-post.html' title='penggembelan ke kota gudeg'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R_yG9HGjTjI/AAAAAAAAAD8/sRx449KA9TY/s72-c/staiun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-3777409316486229613</id><published>2008-03-07T05:35:00.000-08:00</published><updated>2008-03-07T05:38:41.622-08:00</updated><title type='text'>seorang ibu dan sebuah pencapaian</title><content type='html'>&lt;p&gt;Aku tidak akan pernah tahu apa arti perjalanan ini sebenarnya. Tidak sekarang, tidak kemarin, mungkin juga tidak hari esok. Yang pasti, kemana pun aku melangkah, aku berusaha menjadi orang yang berguna buat lingkungan tempat aku bersandar. Masih teringat dengan jelas makian ibu ketika pertama kali aku merayunya untuk bisa ikut dalam acara pendakian ke marapi. " Nggak ada kemping-kempingan! Kamu pikir kamu mao jadi apa? Tarzan? Tidur dihutan, makan seadanya, berteman dengan para gelandangan gunung itu! Apa kamu pikir ibu terima liat kamu 'cari mati' seperti itu....! Nggak, sekali ibu bilang nggak...nggak! Titik!"&lt;/p&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Ah..ibu selalu saja begitu. Tidak pernah memberi aku secuilpun harapan untuk melakukan hobiku. Yang ada didalam pikirannya hanya ada cita-citanya supaya aku bisa menjadi seorang pemuka negeri yang ternama. Cita-citanya, bukan cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian beberapa tahun yang lalu itu, hingga kini masih berbekas dalam ingatanku. Jelas. Sejelas aku bisa melihat hamparan putih didepan ku. Hamparan awan putih yang bergerak perlahan-lahan menjauh dari puncak abadi para dewa-dewi di kayangan. Entah lah, aku masih berfikir, apakah sikapku yang membangkang terhadap orang tuaku, terutama ayah-ibuku, menjadikan aku sebagai seorang anak durhaka? Ketidakinginanku untuk mengikuti segala perkataannya membuatku seperti Malin Kundang?..&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Sejak penolakan pertama, aku menjadi orang yang sangat menggilai semua tentang kegiatan alam bebas. Masa-masa SMU, ku habiskan bersama beberapa temanku untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung di sekitaran sumatera barat,baru itu!. Satu persatu impianku terbayar. Ketika di SMP dulu, aku hanya bisa menangis atau menatap dengan nanar manakala teman-teman menceritakan pengalaman mereka bermain ke curug "anu" bersama si itu. Rasanya sangat tidak mungkin buatku melakukan itu. Pikiran ku menerawang pada suatu malam ketika ayah marah-marah kepada ku didepan ibuku, ketika tahu aku baru pulang dari mendaki sebuah gunung,MARAPI. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"Ibu gimana sih, ngurus satu anak aja nggak beres. Malah dia jadi liar seperti itu sekarang! Naik gunung, masuk goa-goa yang nggak jelas manfaatnya, arung jeram seperti orang nggak ada kerjaan lain saja!...Mao jadi apa? Jagoan?" &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Merah padam muka ayah menatap ku, sementara ucapannya terus ditujukan kepada ibuku, yang hanya bisa tertunduk, tanpa berani menatap tatapan ayah. Memainkan buku-buku jarinya disela isak tangis yang disembuyikan. Tapi tak bisa berbohong dengan air mata yang jatuh pada pipinya yang mulai keriput. Bukan ibu yang menjawab, tapi aku. Dengan sedikit keberanian yang masih tersisa diantara letihku mendaki, berargumen kepada lalaki berkaca mata yang usianya sudah di ambang senja. Lelaki yang semasa hidupnya menjalani kewajiban sebagai ayah dengan sangat baiknya. Lelaki yang selalu mencurahkan tenaganya untuk mencari rezeki, menghidupi aku dan ibuku. Tanpa kenal lelah, bekerja membanting tulang, dari seorang anak kampung terbelakang, hingga kini menjadi pegawai yang lumayan berperan di sebuah instansi di kota asalku, Bukittinggi. Dan selalu menganggap, bekerja dan pendidikan adalah nomor satu. Tanpa harus menghambur-hamburkan uang dengan jalan-jalan, atau hoby yang sangat mahal, seperti mendaki gunung dan lainnya.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" Yah, Ade nggak minta apapun dari ayah. Ade nggak pernah bikin ayah repot. Ade cuma ingin seperti teman-teman Ade , punya kebanggaan. Pengen menyalurkan hobby. Melihat dunia luar. Ade sudah kelas dua esema, yah! Ade udah gede!" jawabku sengit.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" Apa? Udah gede? Nggak minta apa-apa? Kamu nggak pantas ngomong gitu de, kamu nggak perlu nasehatin Ayah. Apa kamu pikir kamu sudah hebat, hanya karena kamu sekarang udah kelas dua? Hah? Kamu masih ingusan. Kamu nggak ngerti gimana susah nya ayah cari uang buat sekolah kamu, untuk kemudian kamu habiskan dengan berfoya-foya dengan teman kamu dengan cara naek gunung! Mulai sekarang, Ayah nggak ada lagi toleransi buat kamu. Nggak ada itu naek gunung, panjat-panjat dinding seperti orang kurang kerjaan. Kamu harus belajar, jadi orang-gedean, baru kamu bisa ngomong seenak perutmu!"&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" Baik...Ade buktikan, bahwa dengan kegiatan yang sekarang, pelajaran dan cita-cita yang selama ini ayah kejar, akan de berikan. Tapi satu saratnya, biarkan Ade hidup dalam dunia sendiri..!" &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Entah kekuatan darimana yang membawa ucapan-ucapan itu keluar lancar dari mulutku. Seoalah tidak ada satu katapun yang tersendat. Aku memandang ibu yang hanya bisa terdiam. Menatap anak yang amat disayanginya ini. Sungguh, aku bukan seorang yang manja, seorang yang bisanya hanya memanfaatkan kumudahan fasilitas dari orang tuanya. Pekerjaan ayah sebagai seorang pegawai di Bukittinggi, memang menjanjikan kehidupan yang lumayan berkecukupan buat anaknya.  Entah, aku bukan dari golongan mereka. Hoby ku bertualang,naluriku mengatakan demikian. Ternyata masuk keluar hutan itu menyenangkan. Dan hutan-demi hutan, aku masuki. Gunung-demi gunung aku daki. Dengan fasilitas orang tuaku, tak ada yang menjadi sulit buatku. Apalagi teman-teman SMU pun ternyata orang-orang mandiri. Dari sanalah aku belajar banyak tentang kehidupan. Bagaimana memperlakukan orang dengan menggunakan perasaan. Dan bagaimana aku harus bersikap ketika kehidupan sedang berada di bawah. Banyak pelajaran yang bisa ku ambil dari hobyku yang satu ini.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Angkot yang aku tumpangi melaju kencang. Mengguncangkan tubuhku yang masih melakukan aklimatisasi. Roda-rodanya menggilas batu-kerikil yang mewarnai awal perjalanan itu. Meski sudah tidak sedingin ketika aku datang kemari dua bulan lalu, tapi tetap saja "kehangatan rumah" masih melekat erat ditubuhku.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"Hey Pals! What are you thinking, buddy! Enjoy the trip! Are you sick?"&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Aku menoleh kearah suara itu. Namanya Ipop. Mahasiswa sastra inggris sebuah universitas ternama di provinsiku. Teman yang baru aku kenal, pada pendakianku sebelumnya. Ketika itu, bawaan ku yang segunung menggugah dia untuk bertanya darimana aku berasal. Obrolan kami berjalan akrab, ketika aku menyebutkan suatu tempat. Dan dengan mata hitam pekatnya yang berbinar dia berseru keras, " thanks God! I found you!" Kemudian dia menjabat erat tanganku sambil menepuk-nepuk pundakku, seolah tak percaya. Aku yang merasa aneh terhadap perlakuannya, hanya bisa bengong tak berkedip dan buru-buru mengingatkan kalau kita sedang terburu-buru mendirikan tenda,karena cuaca makin gelap. Ah...Ipop! sahabat-gunungku yang memilikim karakter&amp;amp; jiwa sebagai pecinta alam sejati.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"No. I'm good. I just think!" jawabku sekenanya.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"Yes. The woman that I love so much! My Mom." jawabku pelan&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Dan Ipop tak berkata apa-apa lagi, kecuali menepukkan tangannya beberapa kali. Dia tersenyum. Dimatanya seolah berkata, sabarlah kawan, perjalanan ini pasti berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam baru saja datang. Udara dingin menyergap dari balik pintu yang dibuka oleh Ipop. Nampaknya dia yang paling bersemangat tentang perjalanan ini. Segelas kopi panas masih mengepulkan uap tipis keudara. Aku kembali teringat ibu. Pada saat-saat terakhir aku pergi meninggalkan rumahku. Segelas susu panas di hidangkan ibu di meja belajarku.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" De," suaranya memecah keheningan. Aku yang masih membereskan beberapa perlengkapan menoleh, tanpa menjawab. " Benar, kamu akan tinggalkan Ibu sendiri? Benar kamu akan tinggalkan rumah? Apa kamu sudah pikirkan masak-masak, nak? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Aku menoleh. Menatap ibu yang selama tujuhbelas tahun membesarkan ku dengan tulus kasih sayangnya. Ibu melangkah gontai dan duduk di sebelahku, membantu membereskan perlengkapan dan carrier yang akan kubawa, dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya tanpa bisa melihat wajahnya yang sudah mulai senja.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"Tapi bukan karena pertentangan dengan ayahmu, bukan? " lanjutnya.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Aku masih bisu.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" De. Jika karena ayah kamu pergi, berarti kamu kalah, nak! Kamu pengecut. Rasanya sia-sia selama ini ibu membelamu..."&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;"Bukan, bu!." kataku memotong ucapan ibu. " Aku pergi karena aku ingin. Ibu tahu, selama ini ayah hanya ingin aku jadi universitas yang bonafit, sekarang sudah!  Kini saatnya aku memilih pada apa yang aku anggap benar. Aku sudah menuruti keinginan Ayah. Aku tinggal kan hobyku menjadi seorang pendaki, dan sekarang semua keinginan ayah sudah aku penuhi. Lalu apa salah jika Ade pergi, bu?"&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;" Nggak, De. Nggak salah. Tapi, sepertinya egomu masih seperti dulu. Kamu persis ayahmu. Nggak bisa dicegah. Sekarang apa daya ibu. Ibu larangpun, pasti kamu akan pergi. Kamu sudah besar De, kamu sudah bisa menentukan jalan hidup mu sendiri. Ibu nggak akan mencegah. Tapi pikirkanlah. Segala sesuatu yang kamu ambil akan kamu pertanggungjawabkan kelak!"&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Dan, seolah kata-kata itu yang selalu jadi azimatku selama ini. Seolah ibu selalu menemaniku di setiap perjalanku. Hingga kini aku bisa berada di sini. Di pesangrahan. Pintu gerbang menuju atap-sumBar. Entah bagaimana pikiranku bisa sebegitu stack nya, juga masih aku ragukan. Tapi itulah hidup dan kenyataan.&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Matahari bersinar cerah hari ini. Udara menjadi sedikit lebih hangat. Tapi tetap saja, rasanya badan ini menggigil setiap kali bertemu dengan air mandi. Untunglah pemilik pondok yang aku tinggali, mau dengan sukarela memasakkan air buat ku mandi! Keramahtamahan orang minang yang memang sudah dari dulu dikenal, ternyata memang bukan isapan jempol. Itulah mereka. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;                                 -to be continued-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-3777409316486229613?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/3777409316486229613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=3777409316486229613&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3777409316486229613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3777409316486229613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/03/seorang-ibu-dan-sebuah-pencapaian.html' title='seorang ibu dan sebuah pencapaian'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-2077332278213141943</id><published>2008-03-05T01:29:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T01:56:32.218-08:00</updated><title type='text'>neh hasil pengembaraan(kenarsisan) gue di kota tua malming kmaren , hikzzzz</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qKYfbKVI/AAAAAAAAABM/unIj_spe43w/s1600-h/komp8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174189748500769106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qKYfbKVI/AAAAAAAAABM/unIj_spe43w/s320/komp8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;vespanya kok bisa nabrak gitu ya mas...??&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;ga mampus ja skalian ??heee....(medis !!)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qKofbKWI/AAAAAAAAABU/bLhUHxadlO8/s1600-h/komp9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174189752795736418" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qKofbKWI/AAAAAAAAABU/bLhUHxadlO8/s320/komp9.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;fotonya kliatan tua banget ya??!!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;yah,apalagi ddukung dengan muke lu yang super-duper-butut-reyot-kayak-drum-minyak-bekas itu de, hakzz&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qK4fbKXI/AAAAAAAAABc/c93WjNoAUSk/s1600-h/kompres1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174189757090703730" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qK4fbKXI/AAAAAAAAABc/c93WjNoAUSk/s320/kompres1.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;mlongo paan sih ??&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;ANEH ya pemirsa abang yg satu ini *__`&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qLIfbKYI/AAAAAAAAABk/Z0ctoXTwLrU/s1600-h/kompres2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174189761385671042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qLIfbKYI/AAAAAAAAABk/Z0ctoXTwLrU/s320/kompres2.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;wuizzsss,, he is a jumper !&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qLYfbKZI/AAAAAAAAABs/YGwAfAjBAZs/s1600-h/kompres3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174189765680638354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qLYfbKZI/AAAAAAAAABs/YGwAfAjBAZs/s320/kompres3.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;"besi tua di kota tua"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;matching kan ??!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#cc0000;"&gt;bagi yg ng-fans gue, untuk posting2an selanjutnya, ditunggu aja yakh ..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-2077332278213141943?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/2077332278213141943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=2077332278213141943&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/2077332278213141943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/2077332278213141943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/03/neh-hasil-pengembaraankenarsisan-gue-di.html' title='neh hasil pengembaraan(kenarsisan) gue di kota tua malming kmaren , hikzzzz'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/R85qKYfbKVI/AAAAAAAAABM/unIj_spe43w/s72-c/komp8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-3295437686304119565</id><published>2008-02-27T20:41:00.000-08:00</published><updated>2008-04-09T01:57:06.022-07:00</updated><title type='text'>ayat-ayat cinta</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Film ini diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy atau biasa disapa Kang Abik, novelis lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Novel tersebut berkisah tentang cinta dan telah banyak menginspirasi banyak remaja muslim. Bukan sekedar kisah cinta biasa tapi mengenai upaya menghadapi berbagai problema cinta secara Islami. Setelah mengalami penundaan tayang yang sebelumnya direncanakan pada Idul Adha 2007, akhirnya AYAT-AYAT CINTA (AAC) tayang mulai 28 Februari 2008.Hanung Bramantyo yang memproduseri fil ini juga lebih banyak memberi porsi pada perilaku 'poligami' Fahri. Padahal novel &lt;em&gt;Kang Abik&lt;/em&gt; berkisah lebih (jauh lebih dalam) dari hanya persoalan 'poligami'. Satu lagi yang paling mengganjal adalah kemampuan orang-orang Mesir dalam memahami dan berbicara bahasa Indonesia. Film yang bersetting di Mesir ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saat menontonnya tak ayal ingatan jatuh ke film James Bond tahun 1970-an yang mana orang-orang Uni Soviet sangat fasih berbahasa Inggris. Meski demikian, secara umum film chicklit 'akhwat' ini mampu memberi pandangan berbeda tentang arti cinta yang dibalut dengan keimanan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yup, semoga bagi para penontonya ga cuma sekedar nonton, tapi bisa mengaplikasikannya dalam keseharian mereka. Termasuk gue khususnya, hee =*=&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-3295437686304119565?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/3295437686304119565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=3295437686304119565&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3295437686304119565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3295437686304119565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/02/resensi-ayat-ayat-cinta.html' title='ayat-ayat cinta'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-617362840574030477</id><published>2008-02-27T20:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-27T20:40:43.054-08:00</updated><title type='text'>why vespa ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;hahaaaaa..namanya juga anak vespa, pastilah omongannya ga jauh2 dari seputaran vespa...(lagi2 vespa).Besi-tua-rongsokan namun gaul ini telah menjadi tunggangan sekaligus temen gue dikala menghadapi pekatnya knalpot jalanan "kehidupan" ,,(halahhh*(&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;but, lo smua mungkin bakal mikir klo gue aneh coz mau2ny bela2an nunggangin si besi tua yang bagi sebagian orang dianggap rendahan dan tak berguna .ough, sugguh bejat itu orang !hee&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;now, gw mo ngasi tau bbrapa alasan gue menjatuhkan pilihan hati pada produk buatan italia ini..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;check it out &gt;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;`Konstruksi mesin lebih sederhana&lt;br /&gt;`Tingkat perawatan mesin lebih mudah karena tidak memerlukan mekanisme katup untuk pengaturan pemasukan bahan bakar maupun pembuangan gas sisa pembakaran&lt;br /&gt;`Pemakaian oli mesin (oli transmisi) lebih hemat karena oli mesin tidak melumasi komponen pembakaran&lt;br /&gt;`Tarikan/akselerasi spontan&lt;br /&gt;`Sistem pendingin mesin menggunakan udara yang diatur oleh “rotor with fan” sehingga lebih stabil sesuai dengan tingkat kecepatan mesin&lt;br /&gt;`Sistem penggerak tenaga langsung (sistem transmisi roda gigi) tanpa perantara rantai sehingga efesiensi tenaga lebih besar sehingga daya tanjaknya lebih kuat&lt;br /&gt;`Pengemudi terbebas dari panas mesin karena seluruh mesin tertutup sehingga tingkat kenyamanan saat mengendarai lebih terjamin&lt;br /&gt;`Dalam kondisi medan berair/berlumpur kaki terbebas dari percikan air/lumpur karena dilengkapi dengan lantai/dek&lt;br /&gt;`Dilengkapi dengan roda cadangan sehingga bila salah satu ban kempes/bocor bisa langsung diganti &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;`Ban depan dan ban belakang bisa saling tukar sekaligus dengan peleknya &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;so, ga salah donk klo semboyan &lt;em&gt;"lebih baik naik vespa"&lt;/em&gt; masih melekat erat dalam kehidupan gue bahkan sampai saat sekarang ?!!oalah,,,&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-617362840574030477?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/617362840574030477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=617362840574030477&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/617362840574030477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/617362840574030477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/02/why-vespa.html' title='why vespa ?'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2437481441627818219.post-3061983766784203796</id><published>2008-02-27T19:55:00.000-08:00</published><updated>2008-02-27T19:58:40.011-08:00</updated><title type='text'>.::benarkah anda pecinta alam.::</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span &gt;Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya (Soe Hok Gie)&lt;br /&gt;Berbagi waktu dengan alam kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki malam, pecahkan teka-teki keadilan (OST Gie, Erros Feat Okta)&lt;br /&gt;      Meninggalnya siswa pendidikan dan latihan dasar (DIKLATSAR) Pecinta Alam yang dimuat suplemen Kampus Pikiran Rakyat (Kamis, 5 Januari 2006) yang lalu sebetulnya bukan hal yang baru. Kejadian meninggalnya peserta pendidikan dan latihan dasar pecinta alam ini sudah lama menjadi momok yang menakutkan bagi para calon pecinta alam. Hal ini terjadi seiring perubahan jaman pula yang menyebabkan kegiatan pecinta alam tidak jauh berbeda dengan penggiat alam. Pergeseran nilai-nilai dalam pecinta alam ini semakin kelihatan dengan melemahnya kegiatan positif yang dibangun oleh pecinta alam itu sendiri.&lt;br /&gt;      Kita coba merunut dari sejarah pendirian mahasiswa pecinta alam yang berawal dari Mapala Universitas Indonesia, digagas oleh Soe Hok Gie dkk pada tahun 1960-an saat terjadinya gelombang politik yang keras diluar kampus. Pecinta alam menjadi gerakan alternatif untuk menghilangkan kejenuhan berpolitik praktis. Kegiatan-kegiatannya pun luput dari hal-hal yang berbau politik. Kelahiran mahasiswa pecinta alam ini menjadi fenomena tersendiri bagi kalangan aktivis kemahasiswaan pada waktu itu sehingga kelahiran yang fenomenal tersebut mendapatkan respon yang positif dengan bermunculannya kelompok – kelompok mahasiswa pecinta alam di beberapa kampus di Indonesia pada dekade 1970-1980-an.&lt;br /&gt;      Karena kelahirannya yang fenomenal pula, mahasiswa pecinta alam seolah mendapatkan sebuah euforia, cenderung apolitik dan hedonis. Dalam arti hanya melakukan kegiatan yang machois, berpetualang, menaklukan gunung tertinggi, arus liar dan tebing batu. Dengan berbekal jiwa muda dengan semangat patriotik mahasiswa pecinta alam menjadi bagian yang sangat ekskulif sehingga hanya orang-orang tertentulah yang bisa melakukan kegiatan berbahaya dan penuh tantangan di alam.&lt;br /&gt;      Kegiatan-kegiatan mahasiswa pecinta alam khususnya dan pecinta alam pada umumnya akhirnya menggiring pada pola gerak penggiat alam (adventurer) bukan lagi sebagai pecinta alam (enviromentalist). Hal ini juga didukung dengan kegiatan perekrutan anggota baru yang semi militer dengan alam sebagai media melatih mental dan fisiknya.&lt;br /&gt;      Kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan dasar pecinta alam yang cenderung ke arah pembentukan penggiat alam terbuka yang dibentuk secara turun temurun setidaknya mempengaruhi setiap langkah yang terbentuk dalam diri pecinta alam. Pada hakekatnya kurikulum pendidikan dan latihan dasar tidak berbeda dengan sokoguru dasar dan tujuan belajar yaitu belajar untuk bertindak (learn to do), belajar untuk berfikir (learn to think), belajar untuk bersikap (learn to be), dan belajar untuk berkelompok (learn to live together). Permasalahan yang timbul kadang sulit untuk mengaktualisasikan terutama dalam pendidikan dan latihan dasar.&lt;br /&gt;      Jika dikaji lebih jauh, dua nama pencinta alam dan penggiat alam terbuka seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Akan tetapi dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;      Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsd. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun space, ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam.&lt;br /&gt;      Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup "istilah" saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas petualangan seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.&lt;br /&gt;      Belakangan, berlahiran kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai "Kelompok Pecinta Alam, (KPA)". Namun, keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan oleh KPA-KPA lain, dengan demikian banyak diantara para "pencinta alam" itu cuma sebatas "gaya" yang menggunakan alam sebagai alat.&lt;br /&gt;      Pencinta alam dunia dengan gerakan enviromentalisme yang berjuang keras dalam menjaga keseimbangan alam ini patut kita contoh sebagai satu gerakan untuk masa depan, kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam, begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas mereka berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka.&lt;br /&gt;      Aktivis lingkungan hidup dunia dengan gerakan cinta lingkungannya akan lebih berarti tindakannya dengan dukungan dari para pencinta alam yang ada di negeri ini. Dalam perbedaan pola fikir dan arah gerak pencinta alam dengan penggiat alam terbuka terdapat kesamaan pula dengan media yang sama untuk itu bukanlah suatu kemustahilan keduanya bersatu untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia sehingga terciptanya lingkungan hidup yang seimbang, stabil dan bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa depan.&lt;br /&gt;      Perubahan paradigma dalam tubuh pencinta alam bukan sebuah kemustahilan untuk berubah dan seimbang dengan kegiatan kegiatan alam terbuka yang biasa digelutinya. Tidak menutup kemungkinan sebuah gerakan radikal untuk masalah kesadaran lingkungan terwujud dalam satu koridor gerakan lingkungan karena masalah lingkungan adalah masalah bersama yang membutuhkan kerjasama dari setiap stake holder pelaku, pemerhati dan aktivis yang bergerak atasnama lingkungan&lt;br /&gt;      Dalam konteks gerakan lingkungan, maka tantangan semakin yang semakin besar di masa mendatang mengharuskan kita untuk melakukan reposisi gerakan lingkungan menjadi gerakan sosial, karena ini adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi dominasi pasar dan globalisasi.&lt;br /&gt;      Menjadi mahasiswa pecinta alam adalah media positif untuk mengaktualisasikan kecintaan pada alam, tentunya harus diiringi dengan itikad baik dalam melaksanakan semua harapan tersebut. Perbedaan pandangan serta ruang gerak antara pecinta alam dan penggiat alam terbuka hendaknya menjadi sebuah motivasi untuk melakukan perubahan yang positif terhadap perilaku kita terhadap alam itu sendiri.&lt;br /&gt;      Segagah Soe Hok Gie dalam menaklukan dalam Gunung Semeru dan secerdas Dono Warkop dalam menggagas PROKASIH (Proyek Kali Bersih) di Sungai Ciliwung Jakarta, karena keduanya adalah mahasiswa pecinta alam yang juga penggiat alam. Selebihnya silahkan berbagi waktu dengan alam karena kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, karena hakikat manusia tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki malam, pecahkan teka-teki keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2437481441627818219-3061983766784203796?l=mukebutut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mukebutut.blogspot.com/feeds/3061983766784203796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2437481441627818219&amp;postID=3061983766784203796&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3061983766784203796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2437481441627818219/posts/default/3061983766784203796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mukebutut.blogspot.com/2008/02/benarkah-anda-pecinta-alam.html' title='.::benarkah anda pecinta alam.::'/><author><name>si gembel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18409205622861537850</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_I7DWDELSc94/STYv4_1oS8I/AAAAAAAAAF4/CXZhQRGl85w/S220/DSC00642.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
